Sabtu, 03 September 2016



maksa pake bahasa Ibrani?

Shalom Alleichem Adonai Yeshua Ha Massiah

Tulisan ini merupakan tulisan untuk menjawab beberapa kegelisahan dan keresahan beberapa orang yang merasa bahwa ada yang memaksa untuk memakai bahasa Ibrani. Tidak terlalu dalam, karena untuk menjangkau banyak orang dan untuk mempermudah pengertian.

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan telinganya. 2 Tim 4:3

Tahun 2000 awal masalah ini sempat muncul ke beberapa literatur dan beberapa selebaran juga sempat saya terima, lalu saya baca, kemudian saya hanya menyimpannya dalam hati. Namun setelahnya sempat menghilang. Masuk bulan Desember 2010 lalu ada orang-orang yang mau menyusup ke dalam gereja Tuhan dengan maksud baik hanya saja bagi beberapa orang sepertinya mengusik, mengganggu dan meresahkan.

Beberapa orang yang menyusup ini sebenarnya bila ditarik garis besarnya memaksa orang untuk kembali kepada bahasa Ibrani untuk menyembah Tuhan, mengenal Tuhan dan melakukan firman Tuhan. Ini menjadi permasalahan ialah sikap yang memaksa baik melalui SMS, BBM, selebaran kertas, telpon dan mendatangi secara langsung seolah-olah mengkonfrontir, membombardir dengan kata-kata yang sungguh-sungguh tidak beretika, mengejek sesama orang percaya dan menghina kelompok kepercayaan bani Kedar.

Hal ini sebenarnya sudah seharusnya kita hindarkan dan kita jauhi. Alkitab berkata dalam 1 Kor 13:4 bahwa kasih itu sabar. Tentu adalah baik untuk kita menerapkan apa yang menjadi keyakinan mereka. Namun bila kita tanpa pengendalian diri dan bersifat memaksa, maka hal ini dapat memang menimbulkan masalah.

Dampak dari pemaksaan untuk kembali kepada bahasa Ibrani:

1. Kita akan dilihat oleh kaum agama-agama selain Protestan dan Katolik sebagai pendukung gerakan Zionisme, padahal tidaklah demikian. Kenal dengan bule saja sudah enak, ya hitung-hitung menambah temanlah.
2. Kita mendapat cap sebagai bidat /penyesat, karena pemaksaan yang bersifat batu sandungan sehingga kita bukanlah saksi Kristus, bukan saksi Mashyiakh, bukan saksi Massiah .
3. Kita bersifat terlalu intelektual yang akhirnya membahayakan diri kita ke arah ahli Taurat. Kita terlalu paham Kitab Suci secara pikiran dengan keahlian pengetahuan yang tinggi tetapi banyak orang akan tidak mengerti secara sederhananya, tidak aplikatif, terlalu rumit dan akhirnya sulit melakukan firman Tuhan.
4. Kita terlalu ekstrem sehingga akan terlalu sulit untuk memenangkan jiwa dalam pemberitaan Kabar Baik akan Kerajaan Tuhan. Kita memaksa akar kata bahasa Ibrani ke dalam pemikiran budaya, gaya hidup dan sampai ke dalam hati kita.
5. Kita sulit mengubah seseorang karena pemakaian bahasa Ibrani yang asli pun seharusnya sesuai dengan Alkitab bahasa Ibrani yang asli. Dalam Alkitab yang dikeluarkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia ada terdapat 10.000 kata bahasa Ibrani yang ada dalam Alkitab versi King James Version (KJV) yang tidak dicantumkan. Alkitab KJV ini sudah diterima secara Internasional karena isi tulisannya mendekati Alkitab bahasa Ibrani yang asli. Namun tahukah kita bahwa dari Alkitab LAI itu yang sebagian kita terima itu ada sekitar 30.000 kata Alkitab bahasa Ibrani yang asli justru tidak terdapat di dalamnya. Belum ditambah kekeliruan penulisan di dalamnya yang lain artinya dibanding dengan kata bahasa Alkitab Ibrani yang asli. Untuk point 5 ini memang diakui dan sudah diteliti oleh para ahli Theolog dunia.
6. Sangat menimbulkan kekeliruan besar pula bahwa Alkitab ternyata karena terbagi dalam 2 Perjanjian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka bila kita telaah (teliti) lebih lanjutnya akan terlihat bahwa Perjanjian Lama ditulis dengan bahasa Ibrani kuno (bukan bahasa Ibrani modern sekarang) dan Perjanjian Baru ditulis dengan bahasa Latin. Sangat kontroversif untuk menyamaratakan bahwa kita harus menggunakan bahasa Ibrani untuk menyembah Tuhan, padahal dalam Perjanjian Baru justru Tuhan Yesus selama di bumi memakai bahasa Aramaik, sementara para murid-Nya yang menyebar ke seluruh dunia dalam penulisan Alkitab Perjanjian Baru semuanya dikumpulkan dan menghasilkan berbagai tulisan dalam bahasa Latin (Yunani). Contoh: Perjanjian Lama menulis Adonai sementara Perjanjian Baru menuliskan Kurios untuk mengerti kata Tuhan. Karena kontroversif inilah, maka kita bisa menyimpulkan bahwa alasan untuk menggunakan kata Ibrani ini tidak kuat alasannya.
7. Kita seolah-olah mendapat doktrinasi yang tidak sesuai dengan sistem yang kita miliki, dimana doktrin ini tidak kuat alasannya dan malah menjadi ancaman untuk memecah kesatuan gereja Tuhan, karena pemahaman yang berbeda. Sudah banyak dan justru menambah persoalan kepada gereja Tuhan dengan adanya pola yang sangat menghalangi gerakan Roh Kudus dan Amanat Agung Tuhan Yesus.
8. Sulit melihat buah-buah rohani. Secara serius saya pribadi menyampaikan hal ini bahwa dalam pengamatan saya pribadi ternyata sulit untuk menghasilkan buah.
• Bagaimana mungkin seseorang berkata bahwa yang sebenarnya adalah menyebut nama Yoshua atau Yeshua adalah Adonai, tetapi di satu sisi menyebut bahwa Allahnya orang Kristen itu di Arab? Lalu apakah mereka tidak merasa pengikut Kristus? Pengikut Nasrani? Pengikut Mesias? Pengikut Kristos? Pengikut Kristus? Atau Mesianik? Atau Massiakhah? Dari kata bahwa Allahnya orang kristen ada di Arab ini saja kita dapat melihat bahwa ini merupakan ejekan untuk sesama orang percaya, ejekan untuk kaum agama tertentu. Terkesan rasialis. Tahukah kita bahwa banyak orang Israel sekalipun pengikut agama Yahudi keras pun ketika bertemu dengan orang Arab entah di wilayah Israel atau di wilayah Timur Tengah ya berbahasa Arab juga (bagi yang telah bisa bahasa Arab), selain berbahasa Inggris. Masa berbahasa Sunda atau bahasa Komering? Kan tidak mungkin.
• Adakah buah jiwa-jiwa? Bila kita mengadakan riset, maka kita akan menemukan bahwa jarang sekali jiwa yang dimenangkan dari kepercayaan lain malah merebut orang kristen untuk diubah pandangannya ke arah yang justru menimbulkan perdebatan yang rumit, perpecahan gereja, penghalang gerakan Roh Kudus, pemberontakan dan keributan.
• Adakah buah pertobatan? Dengan adanya ejekan yang merisaukan, membuat kegalauan semacam ini, maka patut dipertanyakan akan buah pertobatannya.
• Adakah berpusat pada karya kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus? Percuma saja mengajarkan pengajaran yang kita rasa benar dan yakini benar, tetapi keluar dari inti kehidupan kristen yang sesungguhnya, yaitu karya anugerah terbesar Tuhan dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.
• Apakah berpusat pada menjadikan Yesus sebagai Tuhan dalam hati dan kehidupan?

Secara pribadi saya tidak menganggap pengajaran ini sesat. Masih ada kebenaran juga di dalamnya. Hanya saja bila diukur dengan ukuran manusia, pasti ada kekurangan dan kelemahan baik saya juga baik mereka yang berdiri sesuai dengan pengajaran yang mereka pilih. Hanya mari kita berdiri di atas dasar firman Tuhan dan pimpinan Roh-Nya dalam mengembangkan kerajaan Tuhan di bumi ini, bukan sekedar pengetahuan.

Ingat!

1. Kami berdoa dan memanggil Allah pun tetap hadirat Tuhan pun turun. Pewahyuan akan pribadi Tuhan pun semakin dalam. Bahkan pasti masuk sorga karena kita ditebus dengan darah Yesus.

2. Pengajaran untuk kembali kepada bahasa Ibrani merupakan salah satu kebenaran dari banyak pengajaran kontroversif namun masih sejalan dengan kebenaran lainnya. Masih ada pengajaran akan nama Yesus saja, pengajaran Oneness (yang menolak pengajaran Tritunggal), pengajaran gereja rumah, dll. Semuanya baik. Semuanya masih dalam jalur kebenaran. Semuanya bagus. Justru ini membuat gereja Tuhan semakin bisa mengenal kebenaran, semakin dimurnikan tanpa pemaksaan. Intinya ini menjadi pemerlengkapan bagi kita.
3. Sudah semestinya kita memahami bahwa kita bukan hanya perlu pengajaran, melainkan pengajar-pengajar yang berintegritas di hadapan Tuhan, pula bukan hanya memiliki pengajar-pengajar yang banyak melainkan memiliki bapa rohani yang memfungsikan diri kita tetap ada di dalam pikiran Kristus, tetap mengerjakan kehendak-Nya.
4. Perdalam kehidupan Ilahi bersama Roh Tuhan Yesus Kristus. Bangun hubungan pribadi selalu dengan Dia melalui doa pujian penyembahan.
5. Hiduplah dalam kebenaran. Berbuahlah. Hasilkan buah Roh, buah pertobatan, buah jiwa-jiwa, buah pelayanan.
6. Mari menangkan jiwa. Hasilkan buah jiwa-jiwa. Jadi saksi Kristus. Selamatkan jiwa-jiwa yang belum percaya. Bawa datang kepada Tuhan Yesus.
7. Jaga kerukunan bersama. Jangan setelah ini diantara kita mulai perang ayat. Jauhi sikap memanipulasi ayat. Buang sikap memotong-motong ayat demi membenarkan prinsip pribadi. Hiduplah dengan nilai-nilai kebenaran, berdiri di atas prinsip kebenaran firman Tuhan, kejar tujuan hidup kita, yaitu panggilan sorgawi, biarkan hidup kita semakin bermakna, semakin berarti agar menjadi dampak yang kuat bagi sesama sehingga kita bisa mentransformasi komunitas kita, bangsa kita dan seluruh dunia bagi Tuhan.

Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil dan tunaikanlah tugasmu. 2 Tim 4:5

Yivarekaka Vieshmaraka (TUHAN memberkatimu dan menjagamu).

__̅_̅̅_̅̅̅☀Jesus•Bless•You☀_̅̅̅_̅̅_̅_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar